Pages

Labels

Monday, June 9, 2014

Tinjau Industri Kecil Pengolahan Nenas, MWA Ingin Berdayakan Potensi Rakyat



Geliat Proyek Kemakmuran Hijau kini telah menjalar ke banyak daerah di Indonesia. Salah satu lokasi yang menjadi lokasi proyek adalah Kabupaten Muaro Jambi yang menjadi kabupaten starter. Di Kabupaten Muaro Jambi ternyata banyak menyimpan potensi alam yang dapat dikembangkan menjadi industri kecil yang sangat berdaya menggerakkan perekomonian rakyat. Perkebunan nenas yang cukup banyak dikelola rakyat tak nyana menjadi sumber pendapatan yang cukup bernilai. Perkebunan nenas ini berlokasi di Desa Tangkit Baru, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, dikelola oleh masyarakat pendatang asal Sulawesi Selatan yang telah turun temurun menempati daerah tersebut.

Dalam kunjungan kerja ke Provinsi Jambi, Rabu (04/06/2014) Anggota Majelis Wali Amanat MCA-Indonesi yaitu Mangara Tambunan, Zumrotin K. Soesilo dan Tini Hadad melihat langsung proses pembuatan dodol yang berbahan baku nenas. Proses pengerjaan dilakukan oleh tenaga kerja perempuan dari usia yang berbeda. Industri pembuatan makanan khas daerah yang unik ini menjadi sentra usaha bagi banyak rumah tangga. Tak hanya dodol, buah nenas diolah secara kreatif menjadi makanan kecil yang unik seperti nanas selai goreng, bolu selai nenas dan keripik nenas. Industri kecil ini mulai dikembangkan tahun 2011. Bersumber dari satu kepala keluarga, hingga kini usaha ini menjadi pendapatan banyak rumah tangga penduduk Desa Tangkit Baru. Hasil produksinya tidak hanya memenuhi konsumsi daerah lokal, tapi sudah merambah ke Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara hingga Saudi Arabia. Campur tangan Pemerintah Daerah Provinsi Jambi dan Kabupaten Muaro Jambi tak lepas dalam segi pemasarannya. Pemerintah daerah memfasilitasi pemasaran dan promosi dalam acara pameran seperti yang dilakukan pada Pekan Nasional di Malang, Jawa Timur minggu ini. Kini, panganan khas daerah ini dapat dijumpai di toko, pasar modern hingga bandara. Melihat potensi ini, Zumrotin mengusulkan agar panganan khas yang unik ini menjadi souvenir bagi turis domestik dan mancanegara yang disediakan secara gratis di hotel dan penginapan. Cara ini dinilai ampuh sebagai promosi untuk menarik minat wisatawan untuk membeli sebagai buah tangan kembali ke daerahnya masing-masing. 

Selain perkebunan nenas, mata pencarian rakyat yang sangat menguntungkan berasal dari sektor perikanan. Terdapat sedikitnya 40 kelompok pembudidaya khususnya ikan lele di desa ini. Satu kelompok terdiri atas 12 orang anggota yang semuanya mengelola tambak ikan lele. Kelompok perikanan ini mulai dibentuk pada awal tahun 2013 atas dasar Surat Keputusan Camat. “Dulunya banyak yang berbudidaya ikan patin tahun 2009, tapi kini telah beralih ke ikan lele karena penjualan ikan patin terpuruk ” kata Baso Intang, Ketua Kelompok Pembudidaya Majiwa. Kelompok perikanan dibentuk atas semangat masyarakat untuk mengurangi persaingan antara pedagang dan tengkulak. Persaingan ini berimbas pada harga jual lele di pasar yang tidak stabil dan sangat merugikan pemilik kolam. Dengan adanya kelompok perikanan, masyarakat menjadi sangat terbantu dari sisi pemasaran. Selain itu, kelompok perikanan ini menjadi media komunikasi dan informasi terkait pembudidayaan lele.

Ditanya seputar kendala yang dihadapi, Baso Intang menjelaskan kebutuhan ikan lele masih sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lele di Kabupaten Muaro Jambi. Debit air yang kurang besar menyebabkan pertumbuhan lele menjadi terhambat. Pemilik kolam sangat jarang memiliki mesin pompa yang dapat mengalirkan air sungai ke kolamnya. Masyarakat melakukan budidaya lele mulai dari proses pendederan hingga pembesaran. Dalam satu bulan, kelompok budidaya lele dapat memanen sebanyak 15 ton. Harga yang dijual kepada distributor berkisar Rp 17.000/kg. Anggota kelompok dapat menikmati keuntungan hingga 20%-25% per transaksi. Suatu bentuk usaha yang menggerakkan perekonomian masyarakat.

Kelak, Program Compact MCC akan menciptakan multiplier effect semacam ini dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masayarakat. Pola Industri kecil yang dikembangkan masyarakat di Desa Tangkit Baru, merupakan salah satu contoh usaha yang telah beranjak maju dan dapat menjadi role model atau “tutor” untuk usaha integrasi sejenis di daerah pengembangan. Dengan mengusung sebuah kerjasama dalam kongsi perdagangan dan transfer teknologi sederhana, bentuk kooperatif semacam ini sangat layak untuk dikembangkan di daerah implementasi Proyek Kemakmuran Hijau ke depan. Usaha yang dikembangkan juga merupakan sebuah perluasan dari bidang manajemen sumber daya alam untuk tetap menghasilkan kegiatan ekonomi secara ramah lingkungan. (LM/MA)


1 comment:

  1. Terimakasi motifasinya' yg inspiratif; kami petani Nanas Kalimantantimur akan mengikuti jejak dari rekan" di Jambi dalam memacu perkebunan dan industri kecil ramahlingkungan ' salam dari eastBorneo ' success Jambi '. ( Djup Rum official Antodiran Blogspot PIN BBM : 2A990A67 ) eastBorneo

    ReplyDelete