Pages

Labels

Monday, February 24, 2014

Kunjungan Lapangan di Perkebunan Kakao : Teknologi Sambung Pucuk Pembibitan Kakao untuk Peningkatan Pendapatan Perempuan Perdesaan di Mamuju





Kegiatan lapangan untuk pengayaan materi Majalah Compact difokuskan pada isu peluang peran perempuan dalam Program Compact. Setibanya di Mamuju 12 Februari 2014, Tim Satker Pengelola Hibah MCC langsung menuju rumah Pardiyodi di Desa Bunde, Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Beliau adalah Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Waktu tempuh sekitar 2 jam dari Kota Mamuju melalui Jalan Raya Trans Sulawesi Barat – Sulawesi Tengah cukup menyenangkan dengan aspal yang cukup mulus ditambah dengan tuan rumah yang ramah mempersilahkan Tim untuk minum kopi dan mencicipi kue kering yang dibuat sendiri dari bahan tepung singkong lokal.

Pardiyo didampingi Muhammad Amin, seorang penyuluh pertanian lapangan setempat, menjelaskan teknologi yang diteliti dan diterapkan untuk merevitalisasi dan mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada di perkebunan dan produk kakao di Kabupaten Mamuju, mulai dari teknologi Sambung Pucuk, Sambung Samping dan Peremajaan Akar. 

Pembicaraan tidak hanya seputar pada masalah pertanian dan perkebunan semata. Diskusi hangat berkembang hingga pada peran perempuan, pemberdayaan, persatuan petani maupun pembibit melalui Perhimpunan Pengusaha Pembibitan Kakao. Rencana menggabungkan perkebunan dengan peternakan sapi serta produksi pupuk organik juga meramaikan percakapan ini. Tak terasa telah satu jam Tim menghabiskan waktu bersilaturahmi dengan Pardiyo dan Muhammad Amin. Dari beliau berdua, didapat informasi mengenai lokasi usaha pembibitan kakao yang menggunakan teknologi tepat guna Sambung Pucuk dan peran perempuan dalam kegiatan tersebut yang akan dikunjungi keesokan hari.

Menjelang pukul delapan malam, tuan rumah menawarkan Tim untuk bermalam, namun permintaan ini belum dapat dipenuhi karena esok pagi harus mengikuti acara pembukaan Workshop Uji Coba Modul Pemberdayaan Gender Proyek Kemakmuran Hijau di Kantor Bappeda Provinsi Sulawesi Barat.

Sesuai dengan kesepakatan malam sebelumnya, Tim Jurnalis Satker Pengelola Hibah MCC bertemu dengan Muhammad Amin di tempat yang telah disepakati yang terletak di wilayah Papalang, Mamuju. Kemudian Tim melanjutkan perjalanan menuju tempat usaha pembibitan kakao Sambung Pucuk. Pada prinsipnya Sambung Pucuk adalah menyambungkan bibit batang bawah yang berasal dari biji dengan batang atas yang bersumber dari entres. Kelebihan produksi bibit dengan metoda ini adalah dapat diperoleh bahan tanam yang identik dengan induk asal entresnya. Klon yang digunakan untuk batang bawah adalah yang memiliki perakaran kuat sedangkan untuk batang atas dipilih jenis Sulawesi 1 atau Sulawesi 2 yang memiliki produksi tinggi dan relatif tahan terhadap penyakit.

Tak lama setelah tiba di lokasi usaha pembibitan ini, Tim menyaksikan sebuah truk yang membawa bibit-bibit kakao yang dibeli pemilik usaha pembibitan tersebut dari Palopo yang kebetulan sedang datang. Penambahan pasokan dari luar wilayah dikarenakan tingginya permintaan bibit untuk peremajaan tanaman kakao. Truk tersebut tidak hanya membawa bibit kakao yang belum disambung pucuk, tetapi juga tanah dan plastik penahan ultra violet (UV) sinar matahari yang akan digunakan sebagai atap tempat pembibitan kakao.

Tak hanya warga laki-laki, perempuan ikut menurunkan dan membawa bibit kakao dari truk menuju lahan usaha pembibitan untuk dilakukan Sambung Pucuk. Tak lama, istri pemilik usaha pembibitan datang membawa pisau dan lembaran plastik sebagai perangkat untuk menyambung pucuk bibit yang baru didatangkan dengan pucuk pohon kakao yang sudah dewasa dengan jenis Sulawesi 1 dan Sulawesi 2. Pengamatan di lapangan menunjukkan peran aktif perempuan dalam kegiatan pembibitan kakao, meskipun di lokasi pembibitan ini baru seorang perempuan yang memiliki keahlian untuk melakukan pembibitan dengan teknik sambung pucuk.

Selanjutnya, Tim beranjak menuju ke lokasi usaha pembibitan warga di tempat lainnya yang terletak di Dusun Bone Baru. Di dusun ini, Tim menyaksikan kegiatan kaum perempuan khususnya para ibu rumah tangga sedang menjemur dan memilah biji kakao. Tak jauh dari tempat tersebut, Tim dipertemukan dengan salah satu koordinator kelompok tani, Ambotuo yang menjalankan usaha pembibitan untuk keperluan kebunnya sendiri dan sisanya dijual kepada pengepul.

Tak lama, berkumpulah empat orang ibu rumah tangga yang segera melakukan aktivitas untuk memproduksi bibit kakao Sambung Pucuk. Satu dari empat orang perempuan yang berkumpul itu, ikut membantu menutupi ujung batang bibit kakao yang sudah selesai disambung pucuk dengan plastik, karena belum bisa menerapkan teknologi Sambung Pucuk. Ketiga ibu rumah tangga yang mahir melakukan teknik Sambung Pucuk tersebut mengaku bisa melakukannya dengan belajar secara otodidak. Awalnya, mereka melihat aktivitas yang dilakukan suami atau laki-laki lain dan kemudian mencobanya sendiri. 

Persis di belakang kaum ibu yang sedang melakukan Sambung Pucuk tersebut, tampak bibit kakao yang sudah berhasil disambung pucuk dan siap ditanam dengan berbagai ukuran tinggi. Bibit-bibit tersebut diproduksi dan disimpan di bawah rumah panggung yang mereka diami. Ada juga bibit-bibit kakao yang sudah berhasil disambung pucuk yang disimpan atau diletakkan di areal samping rumah. Areal tersebut diberi naungan dari pelepah kelapa agar bibit-bibit tersebut tidak rusak atau mati terbakar sinar matahari.

Hasil pengamatan lapangan ini menunjukkan peran aktif perempuan dalam kegiatan perkebunan kakao. Kegiatan pembibitan Sambung Pucuk dilakukan oleh para ibu dengan memanfaatkan halaman rumah, bahkan di kolong rumah bagi petani yang memiliki rumah yang berbetuk panggung. Hasil penjualan bibit yang telah dilakukan sambung pucuk bervariasi antara Rp 7.000,- hingga Rp 12.000,- per batang. Dengan demikian, kegiatan ini memberi peluang peningkatan pendapatan rumah tangga petani.



Arbain Nur Bawono
Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Wilayah

Arief Setyadi
Tenaga Ahli Gender

1 comment:

  1. Assalamualaikum Salam sejahtera untuk kita semua, Sengaja ingin menulis
    sedikit kesaksian untuk berbagi, barangkali ada teman-teman yang sedang
    kesulitan masalah keuangan, Awal mula saya mengamalkan Pesugihan Tanpa
    Tumbal karena usaha saya bangkrut dan saya menanggung hutang sebesar
    1M saya sters hampir bunuh diri tidak tau harus bagaimana agar bisa
    melunasi hutang saya, saya coba buka-buka internet dan saya bertemu
    dengan KYAI SOLEH PATI, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama 3 hari
    saya berpikir, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KYAI SOLEH PATI
    kata Pak.kyai pesugihan yang cocok untuk saya adalah pesugihan
    penarikan uang gaib 4Milyar dengan tumbal hewan, Semua petunjuk saya ikuti
    dan hanya 1 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah akhirnya 4M yang saya
    minta benar benar ada di tangan saya semua hutang saya lunas dan sisanya
    buat modal usaha. sekarang rumah sudah punya dan mobil pun sudah ada.
    Maka dari itu, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya
    sering menyarankan untuk menghubungi KYAI SOLEH PATI Di Tlp 0852-2589-0869
    Atau Kunjungi Situs KYAI www.pesugihan-uang-gaib.blogspot.co.id/ agar di
    berikan arahan. Supaya tidak langsung datang ke jawa timur, saya sendiri dulu
    hanya berkonsultasi jarak jauh. Alhamdulillah, hasilnya sangat baik, jika ingin
    seperti saya coba hubungi KYAI SOLEH PATI pasti akan di bantu Oleh Beliau

    ReplyDelete