Pages

Labels

Wednesday, February 19, 2014

MCA-I Gelar Forum Investasi Kemakmuran Hijau : Fasilitas Pembiayaan untuk Biogas POME di Jambi




Untuk pertama kalinya, MCA-Indonesia menggelar konsultasi publik dalam bentuk Forum Investasi Kemakmuran Hijau : Fasilitas Pembiayaan untuk Biogas dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit atau Green Prosperity Investment Forum : Finance Facility for Biogas Palm Oil Mill Effluent (POME) untuk Kabupaten Muaro Jambi. Forum ini merupakan tindak lanjut dari rencana percepatan implementasi yang difasilitasi dari hasil kajian 8 Pre-Feasibility Study yang telah dilakukan oleh Konsultan National Renewable Energy Laboratory (NREL). Tujuan diselenggarakannya forum yang mengambil tempat di Hotel Aston Jambi adalah untuk mensosialisasikan teknologi POME pada pemilik Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang berasal dari Kabupaten Muaro Jambi.

Sekretaris Daerah Kabupaten Muaro Jambi, H.Imbang Jaya dalam pidato pembukaannya, Selasa (11/02/2014) menyampaikan bahwa Proyek Kemakmuran Hijau di Kabupaten Muaro Jambi mewakili daerah dataran rendah dengan potensi energi terbarukan berupa biomassa yang menggunakan sumber limbah cair Pabrik Kelapa Sawit (PKS), cangkang sawit dan tenaga surya. Proyek Kemakmuran Hijau dirasa sangat menunjang pembangunan di daerah terutama Kabupaten Muaro Jambi yang mengemban misi “Mewujudkan Masyarakat Muaro Jambi yang Cerdas, Kerukunan, Amanah dan Demokratis, Maju Bersama”. Ajakan untuk bekerja sama dan berpartisipasi aktif disampaikan Imbang pada peserta forum sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap keberlangsungan program. 


Proyek Kemakmuran Hijau memiliki 4 ruang lingkup kegiatan yaitu land use planning, technical assistance and oversight, Green Prosperity finance facility dan green knowledge. Direktur Kemakmuran Hijau MCA-Indonesia, Budi Kuncoro menjelaskan skema pembiayaan yang ditawarkan pada mekanisme Green Prosperity Finance Facility, yaitu Matching Grant, Joint Lending dan Small Grant. Matching Grants dikemas dalam bentuk kerjasama Public-Private Partnership atau bentuk pengaturan kerjasama pembiayaan lainnya untuk mendukung keberlangsungan pertanian dan program kehutanan. Alokasi biaya yang ditetapkan untuk tipe ini sebesar USD 50 juta dengan porsi dana dari Proyek Kemakmuran Hijau sebanyak 50%. Jenis kedua adalah Joint Lending dalam bentuk komersial yang ditujukan untuk pembiayaan bersama dan bantuan pelayanan konsultasi untuk proyek energi terbarukan yang bernilai jual di atas 10 MW. Alokasi dana yang disediakan untuk skema ini sebesar USD 140 juta. Jenis terakhir adalah Small Grants yang dikemas berbasis masyarakat yang ditujukan pada proyek pengembangan komunitas kecil untuk meningkatkan hasil investasi. Alokasi dana yang ditargetkan sebesar USD 50 juta dengan porsi dana 100% dari Proyek Kemakmuran Hijau. 

Dalam diskusi yang dipandu langsung oleh Budi Kuncoro, peserta mempertanyakan keuntungan keikutsertaan mereka dalam program tersebut. Secara bisnis, PKS yang didirikan sudah mampu menghasilkan margin dan kebutuhan listrik pabrik telah terpenuhi oleh adanya pembangkit listrik dari biomassa lainnya. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi MCA-Indonesia untuk mengajak dan membuka cakrawala bisnis bersih di bidang energi. Sesuai dengan tujuan fasilitas pembiayaan GP yaitu untuk mendorong investasi swasta di bidang energi terbarukan, maka forum ini diharapkan dapat menjadi sebuah ajang dalam memperkenalkan perspektif baru dalam mengolah sampah menjadi sebuah sumber energi yang menguntungkan dari sisi bisnis. Dampak ganda yang dapat dirasakan oleh pemilik PKS adalah pengurangan emisi gas rumah kaca yang diperoleh dari kompensasi gas methane menjadi karbondioksida. Dengan demikian, tujuan Proyek Kemakmuran Hijau dalam mengurangi emisi gas rumah kaca akan seiring sejalan dengan peningkatan ekonomi para investor dan produktivitas para penerima manfaat dari hadirnya listrik di lingkungan mereka. 

Forum ini dihadiri oleh Anggota Majelis Wali Amanat (MWA) MCA-Indonesia, Pejabat Pembuat Komitmen Satker Pengelola Hibah MCC, NREL, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), PT. Sarana Multi Insfrastruktur (SMI), Satuan Kerja Perangkat Daerah dan perusahaan swasta kelapa sawit. (LM/MA).

No comments:

Post a Comment