Pages

Labels

Monday, February 3, 2014

MCC Kunjungi Istana Bogor


Keindahan Istana Bogor tak pelak menarik perhatian seluruh petinggi Millennium Challenge Corporation (MCC) dalam lawatannya ke Indonesia. Seusai menghadiri Workshop Pemantapan Pengelolaan Program Compact di Hotel Royal Bogor, Kamis (30/1/2014), rombongan MCC, MCA-Indonesia dan Satker Pengelola Hibah MCC bertolak menuju Istana Bogor yang hanya berjarak 1 km saja. Tercatat dalam rombongan, Resident Country Director MCC untuk Indonesia, Troy Wray, Infrastructure Director MCC, Yohannes Abebe, Green Prosperity Director MCC, Lauren Labovitch, OGC, David Kassebaum, Senior Director for Program Procurement Policy, Jeanmarie Meyer, Environment and Social Management System MCC, Sergio Felt dan masih banyak lagi, dipimpin oleh Direktur Eksekutif MCA-Indonesia, J.W. Saputro.

Kunjungan ke Istana Bogor merupakan bentuk pengenalan sejarah dan budaya Indonesia pada MCC. MCA-Indonesia berupaya mendekatkan MCC dengan keaslian Indonesia untuk lebih menumbuhkan keakraban antar dua negara. Kunjungan ini juga memberikan pemahaman secara langsung tentang struktur dan sistem pemerintahan di Indonesia dari masa ke masa. Bahkan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush juga pernah berkunjung ke Istana Bogor pada 20 November 2006 sebagai bentuk jamuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono walaupun hanya berlangsung selama enam jam. Keunikan dan keindahan Istana Bogor memang sangat memukau. “Istana ini bahkan lebih besar dari pada White House” kata Abebe.

Istana Bogor merupakan icon Kota Bogor selain Kebun Raya yang selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal bahkan manca negara. Istana Bogor merupakan satu dari enam Istana Presiden selain Istana Negara dan Istana Merdeka di Jakarta, Istana Cipanas di Cipanas, Istana Tampaksiring di Bali serta Istana Gedung Agung di Yogyakarta. Istana Bogor jarang digunakan sebagai tempat kantor kepresidenan. Pernah digunakan menjadi tempat pertemuan tahunan Menteri Ekonomi APEC (Asia-Pasific Economy Cooperation) pada tanggal 15 November 1994 yang menghasilkan Deklarasi Bogor. Deklarasi ini merupakan komitmen 18 negara anggota APEC untuk mengadakan perdangangan bebas dan investasi sebelum tahun 2020.

Istana Bogor dahulu bernama Buitenzorg atau Sans Souci yang berarti "tanpa kekhawatiran". Sejak tahun 1870 hingga 1942, Istana Bogor merupakan tempat kediaman resmi dari 38 Gubernur Jenderal Belanda dan satu orang Gubernur Jenderal Inggris. Istana ini dibangun pada bulan Agustus 1744 dan berbentuk tingkat tiga, pada awalnya merupakan sebuah rumah peristirahatan. Seiring waktu, perubahan bangunan awal dilakukan selama masa Gubernur Jenderal Belanda maupun Inggris (Herman Willem Daendels dan Sir Stamford Raffles), berubah menjadi bangunan istana paladian dengan luas halamannya mencapai 28,4 hektar dan luas bangunan 14.892 m². Pada tahun 1950, setelah masa kemerdekaan, Istana Kepresidenan Bogor mulai dipakai oleh Pemerintah Indonesia dan resmi menjadi salah satu dari Istana Presiden Indonesia.



 
 Mempunyai bangunan induk dengan sayap kiri serta kanan, keseluruhan kompleks istana mencapai luas 1,5 hektar. Bangunan induk Istana Bogor terdiri dari bangunan induk istana, berfungsi untuk menyelenggarakan acara kenegaraan resmi, pertemuan dan upacara. Sayap kiri bangunan yang memiliki enam kamar tidur digunakan untuk menjamu tamu negara asing. Sayap kanan bangunan dengan empat kamar tidur hanya diperuntukkan bagi kepala negara yang datang berkunjung. Pada tahun 1964 dibangun khusus bangunan yang dikenal dengan nama Dyah Bayurini sebagai ruang peristirahatan presiden dan keluarganya, bangunan ini termasuk lima paviliun terpisah. Selain itu ada Perpustakaan, Ruang Makan, Ruang Sidang Menteri dan Ruang Pemutaran Film. Ruang yang melegenda adalah Kantor Pribadi Kepala Negara dan Ruang Garuda sebagai tempat upacara resmi. Ruang Teratai sebagai sayap tempat penerimaan tamu negara dan yang paling unik dihiasi dengan Kaca Seribu.  


Banyak barang asli turun temurun yang berada di Istana Bogor rusak, hancur atau hilang pada masa Perang Dunia II. Seluruh karya seni dan perabotan klasik yang berada di Istana Bogor bermula dari awal tahun 1950. Koleksi karya seni dan dekorasi internasional banyak berasal dari hadiah negara-negara asing. Salah satunya adalah tempat penyangga lilin kristal bergaya Bohemian dan karpet langka dari Persia yang melapisi lantai ruang utama di Istana Bogor. Koleksi istana meliputi 450 lukisan, di antaranya adalah karya pelukis Indonesia Basuki Abdullah, pelukis Rusia Makowski dan Ernest Dezentjé ; 360 patung ; susunan lantai keramik mewah yang tersebar di istana. Salah satu dari koleksi keramik yang paling mengesankan berasal dari Rusia, merupakan sumbangan dari Perdana MenteriKhrushchev pada tahun 1960. Hadiah kenegaraan lainnya adalah tengkorak harimau berlapis perak, hadiah dari Perdana Menteri Thanom Kittikachorn dari Thailand pada tahun 1958**. (LM/MA)

**Sumber : Wikipedia

No comments:

Post a Comment