Pages

Labels

Monday, June 9, 2014

Dubes AS Tinjau Contoh Lokasi Pengolahan POME




Pemanfaatan Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi satu perhatian khusus dalam pengembangan Proyek Kemakmuran Hijau. Duta Besar Amerika Serikat (AS), Robert O. Blake, Jr dalam lawatannya ke Provinsi Jambi, mengunjungi Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Rabu (04/06/2014). PT. Biccon Agro Makmur menjadi PKS yang dikunjungi Dubes AS terletak persis di Desa Sungai Gelam dengan jarak tempuh 2 jam perjalanan dari Kota Jambi. 

POME adalah limbah cair hasil pengolahan kelapa sawit. Meski tidak beracun, limbah cair tersebut dapat menyebabkan bencana pencemaran bagi lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Limbah cair tersebut diolah di kolam terbuka dan dengan proses biologis, kolam POME akan melepaskan sejumlah besar gas metana dan gas lainnya yang menyumbangkan emisi gas rumah kaca. Melihat kondisi ini, Proyek Kemakmuran Hijau berencana memanfaatkannya untuk menghasilkan pasokan listrik yang dapat dimanfaatkan masyarakat setempat. Tingginya kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) dalam limbah cair kelapa sawit memberikan potensi produksi gas metana yang akan bermanfaat untuk konversi listrik dengan melalui serangkaian tahapan pemurnian. 

Dubes AS menilai, dengan dibangunnya pembangkit listrik yang memanfaatkan POME, sangat berpengaruh pada pengurangan emisi gas rumah kaca yang berakibat pada perubahan iklim. “Pada saat yang bersamaan, juga memberikan listrik pada masyarakat” ujar Blake. Kunjungan ke Jambi ini, menurut Blake juga sangat membuka cakrawala pengetahuannya dalam melihat Indonesia yang sesungguhnya. “MCC akan terus memantau proyek ini (Kemakmuran Hijau, red.) dari dekat dan melihat dampak ekonomi pada rakyat untuk dapat dikembangkan kemudian” tutur Blake. Kunjungan ini juga didampingi oleh Wakil Gubernur Jambi Fachrori Umar, turut memberikan beberapa tanggapan saat acara ramah tamah dengan masyarakat. Beliau mengingatkan agar pemanfaatan sumber daya alam harus terkoordinasi dan melakukan manajemen tata kelola lingkungan yang terintegrasi untuk keseimbangan alam. 

Pembangunan pembangkit listrik dari POME tentu memakan biaya yang tidak sedikit. Hanya sedikit sekali PKS yang memanfaatkan POME untuk dijadikan sumber listrik alternatif. Salah satu PKS yang sudah mengembangkan teknologi energi terbarukan dari POME adalah PT Austindo Aufwind New Energy yang terletak di Belitung. Diundang secara khusus, Imam Wahyudi, Head of Business Development-Associate General Manager PT Austindo Aufwind New Energy menjelaskan proses dan tahapan pengerjaan yang sudah diaplikasikan. “Ini hanya contoh teknologi yang dapat diterapkan di sini” kata Imam menjawab pertanyaan Dubes AS dalam kaitannya dengan pemanfaatan POME di Jambi. 

Skema pembiayaan hibah Proyek Kemakmuran Hijau membuka kesempatan bagi PKS yang ingin memanfaatkan fasilitas tersebut. “MCA-Indonesia akan mengevaluasi terlebih dahulu melalui beberapa tahapan dan survey” kata Budi Kuncoro, Direktur Proyek Kemakmuran Hijau. Pembiayaan tersebut tentu saja tidak untuk keseluruhan pembangunan pembangkit listrik. PT. Biccon Agro Makmur merupakan salah satu PKS yang membuka diri untuk pengembangan pembangkit listrik dari POME. “Kami berusaha mendapatkan hibah ini untuk membantu pembangunan pembangkit listrik di sini” kata Robinson Sibagariang, salah satu pemilik PT. Biccon Agro Makmur. PT Biccon Agro Makmur sendiri memiliki 6.000 hektar kebun kelapa sawit. PKS sendiri sudah beroperasi sejak Oktober 2011 hingga kini dengan kapasitas 60 ton per jam. Kabupaten Muaro Jambi memiliki setidaknya 10 PKS yang berpotensi menghasilkan 15-20 MW listrik. Saat ini, sudah empat PKS yang menyatakan ketertarikannya berinvestasi untuk listrik dari POME. Dengan dibangunnya pembangkit listrik dengan memanfaatkan POME di Muaro Jambi, tentu sangat akan banyak membantu kebutuhan pasokan listrik masyarakat yang tentu berdampak langsung pada peningkatan taraf hidup masyarakat. (LM/MA)


No comments:

Post a Comment