Pages

Labels

Saturday, November 8, 2014

Vandalisme atau Grafitti?


Coretan di dinding-dinding bangunan perkotaan merupakan sebuah fenomena sosial yang menarik di wilayah perkotaan. Seolah-olah dinding bangunan di perkotaan adalah sebuah kertas bersih yang siap diberikan pola coretan. Pada zaman perang kemerdekaan Indonesia, semboyan Merdeka atau Mati merupakan coretan yang menghiasi sebagian besar tembok bangunan di Jakarta dan kota-kota perjuangan lainnya.

Hal ini setidaknya juga banyak dijumpai pada banyak wilayah di Italia. Seakan menjadi hal yang mafhum, coretan di dinding menjadi bagian dari perkembangan kota. Mulai dari coretan dengan tuliasan bernada protes hingga ke lukisan mural yang indah, coretan ini menandai setiap kota. Bergantung pada selera dan cita rasa seni yang ada, kita dapat melihat kondisi ini sebagai sebuah vandalisme atau sebuah seni grafitti.
 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, vandalisme diartikan sebagai perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya). Sedangkan grafitti oleh wikipedia diartikan sebagai coretan pada dinding atau permukaan di tempat-tempat umum atau tempat pribadi. Coretan tersebut, bentuknya bisa berupa seni, gambar atau hanya berupa kata-kata.

Banyak kota di dunia telah mengembangkan cara yang lebih bersahabat terhadap para “artis” lukisan liar ini. Misalnya di Philadelphia, Philadephia Anti-Graffiti Network (PAGN) yang tadinya sangat menentang seni ini akhirnya meciptakan sebuah program yang diberi nama Mural Arts Program pada tahun 1984. Program ini menyediakan tempat yang sangat layak, namun jika para artis tersebut membuat graffiti di luar wilayah tersebut, maka hukuman yang berat pun harus siap mereka terima. Demikian juga di kota New York. Pada tahun 2006, Pemerintah Kota New York melegalkan permintaan seni grafitti, namun dengan syarat para “artis” yang melakukan kegiatan tersebut harus berumur 21 tahun ke atas. (MA) 


No comments:

Post a Comment