Pages

Labels

Tuesday, February 3, 2015

Arisan


Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, arisan atau /aris·an/  adalah “kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yg memperolehnya, undian dilaksanakan di sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya”. Kelompok orang yang melakukan undian tersebut bisa jadi sesama anggota keluarga, bisa juga rekan sejawat kantor, teman sepermainan saat sekolah, teman sedaerah dan banyak lagi lingkaran sosial lainnya.

Hingga saat ini, belum dapat ditelusuri siapa yang pertama kali mencetuskan sistem seperti ini dan kapan sistem ini mulai dipergunakan. Konon, bangsa Cina telah menggunakan konsep arisan secara umum sejak lebih dari seribu tahun lalu. Saat pedagang Cina berlayar ke Indonesia dan melakukan transaksi perdagangan, terjadilah akulturasi budaya sehingga konsep arisan tersebut berkembang sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Petani di pulau Jawa juga mengenal istilah jimpitan. Jimpitan berasal dari bahasa Jawa ‘Jimpit’ yang berarti pungutan. Dimulai dari tradisi iuran beras dari setiap rumah tangga di masyarakat Jawa. Beras yang awalnya ‘sejimpit’ dikumpulkan menjadi bukit, yang pada akhirnya akan diberikan secara giliran pada warga yang membutuhkan. Tradisi ini masih berlangsung hingga sekarang. Pada zaman modern dan seiring berkembangnya kegiatan perekonomian, tradisi ini diadaptasi sehingga menjadi sistem arisan yang dikenal saat ini.

Arisan uang adalah arisan paling popular bagi masyarakat Indonesia. Setiap anggota kelompok atau komunitas peserta menyepakati nominal uang yang disetorkan lalu diundi secara berkala. Semua peserta arisan mendapat nilai dan hak yang sama, kewajiban yang sama dan semua  juga harus setuju dengan hasil undian atau ’kocokan’. Berbagai kelompok masyarakat juga menyelenggarakan arisan barang. Dengan sistem iuran yang sama, peserta arisan bukan mendapatkan uang tunai, akan tetapi mendapatkan barang yang sesuai yang disepakati. Pada umumnya yang diundi adalah perlengkapan rumah tangga seperti panci, kompor gas, peralatan makan dan sebagainya. Selama semua anggota kelompok arisan menyetujui, apa saja bisa diundi dan menjadi ‘bahan arisan’. Ya, apa saja termasuk teman kencan. Terdapat fenomena sosial di kota-kota metropolis dimana arisan menjadi ajang kumpul para wanita kaya untuk memamerkan harta dan status sosial, dengan undian yang cenderung mengarah ke penyimpangan. Alih-alih uang atau barang, pria muda berpenampilan menarik yang kerap disebut ‘berondong’ menjadi bahan undian dan hadiah. ‘Arisan Berondong’ ini umumnya diselenggarakan oleh para wanita berusia diatas 40 tahun yang tentunya tidak memiliki masalah dengan keuangan. Mereka rela mengeluarkan uang berjuta-juta rupiah asalkan keinginannya terpenuhi.

Terlepas dari semua bumbu kegiatan arisan seperti ‘arisan berondong’ atau ditipu bandar arisan yang kabur, masyarakat Indonesia menganggap arisan adalah salah satu sistem perekonomian yang mengedepankan prinsip gotong royong, keterbukaan dan kekeluargaan. Seperti norma pada kegiatan jimpitan, masyarakat Indonesia masih ada yang percaya bahwa permasalahan kebutuhan jika dirembukan bersama-sama akan ada jalan keluarnya. Jika dilaksanakan dengan serius dan bijaksana, kebutuhan keuangan ataupun keperluan lainnya bisa terbantu dengan  arisan. Manfaat bagi tiap peserta juga berbeda-beda tergantung kebutuhan. Ada yang menganggap arisan adalah bagian dari menabung, jika dapat giliran dimanfaatkan untuk kebutuhan rekreasi. Ada juga yang memperlakukan arisan untuk menutupi kebutuhan rumah tangga, biaya darurat atau bahkan sebagai tabungan dana pendidikan.

Pada hakekatnya, arisan mengajarkan untuk berdisiplin dalam menyisihkan uang, bertanggungjawab terhadap kewajiban untuk iuran serta menjalin komunikasi dan tali silaturahmi dengan sesama peserta. Dan yang paling penting, arisan harus dikelola secara terbuka dan transparan agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Sekali lagi, kata-kata kuncinya adalah ‘komunikasi’ dan ‘kebersamaan’.


-temawt *dari berbagai sumber


No comments:

Post a Comment