Pages

Labels

Thursday, March 20, 2014

MCA-Indonesia Bahas Bersama Modul Tentang Gender untuk Proyek KGBM



MCA-Indonesia saat ini sedang mengembangkan modul tentang Pemberdayaan Perempuan dan Partisipasi Laki-laki untuk memperkuat Modul Pelatihan Fasilitator Kecamatan PNPM Generasi. Pembahasan terus dilakukan untuk menyempurnakan modul tersebut. Dalam rapat yang bertajuk Integrasi Sosial dan Gender dalam Proyek Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKGBM) di Kantor MCA-Indonesia, Gedung Jasindo Jakarta, Kamis (20/03/2014), dibahas Modul 19 dan Modul 20 untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak.

Modul 19 dengan judul Pemberdayaan Perempuan dengan Persfektif Gender dalam Pencegahan dan Penanggulangan Stunting, disampaikan oleh Ikeu. T, perwakilan dari Pusat Kajian Gender dan Anak Institut Pertanian Bogor (PKGA IPB). Menurut Ikeu, pembuatan modul ini didasarkan pada upaya meningkatkan kapasitas perempuan dalam pengambilan keputusan terkait pemanfaatan waktu, gizi keluarga dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. “Modul ini berupaya meningkatkan kapasitas perempuan dalam pengambilan keputusan di masyarakat” ujar Ikeu. Posisi tawar perempuan yang masih lemah sebagai akibat dari adanya bentuk-bentuk ketidakadilan gender seperti stereotip, subordinasi, margimalisasi dan beban kerja ganda perempuan berdampak pada kurangnya akses dan kontrol terhadap sumber daya yang dibutuhkan untuk perbaikan gizi keluarga dan masyarakat. Perbedaan akses dan kontrol dalam pengambilan keputusan di masyarakat mengandung arti adanya hak dan prioritas perempuan yang terabaikan dan berdampak pada adanya ketidakadilan gender dari manfaat program yang diterima. Oleh karena itu pemberdayaan perempuan melalui perbaikan posisi relatif antara perempuan dan laki-laki dalam keluarga maupun di masyarakat diharapkan dapat mempengaruhi perbaikan gizi masyarakat, khususnya dalam penanggulangan stunting. Modul ini merupakan rangkaian dari berbagai aktifitas yang dipersiapkan untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan perempuan dalam lima tingkatan pemberdayaan perempuan yaitu kesejahteraan, akses, kesadaran kritis, partisipasi dan kontrol, sehingga perempuan mampu dalam pengambilan keputusan terkait pemanfatan waktu, gizi keluarga dan pemanfaatan fasilitas kesehatan serta mampu dalam pengambilan keputusan di masyarakat untuk pencegahan dan penanggulangan stunting. 

Modul 20 dipaparkan oleh Lies M, Konsultan Gender yang membantu dalam penyusunan modul ini. Modul 20 berjudul Peningkatan Partisipasi Lelaki dalam Penanggulangan Stunting dengan Perspektif Gender didasarkan pada asumsi yang telah terbukti dari program kesehatan lainnya yang melibatkan perempuan dan laki-laki, seperti Keluarga Berencana (KB). Asumsi tersebut menjelaskan bahwa asupan gizi anak dipengaruhi oleh seberapa besar tanggung jawab laki-laki dewasa, dalam hal ini seorang ayah, dalam upaya mengurangi stunting. Meningkatnya partisipasi laki-laki dalam pengurangan stunting dapat terjadi bilamana perempuan memiliki kemampuan politik dalam pengambilan keputusan dan laki-laki memiliki kesadaran baru tentang tanggung jawab bersama dalam tumbuh kembang anak. Selain itu, laki-laki mengalami transformasi kesadaran tentang beban tanggung jawab rumah tangga yang seharusnya ditanggulangi bersama dan laki-laki bisa menjadi lelaki baru yang dapat memperngaruhi lingkungannya bilamana mereka bisa melihat insentif dari perubahan relasi, pembagian kerja, pengambilan keputusan berupa anak-anak yang sehat, biaya pengobatan akibat kurang gizi berkurang, dan memiliki anak yang cerdas. 

Penjelasan modul ini menuai beberapa masukan dari peserta rapat. Menurut Gender Policy MCA-Indonesia, modul harus dibuat berdasarkan pada fakta yang ada di lapangan, seperti hambatan pengetahuan para fasilitator PNPM Generasi. Untuk menyempurnakan modul tersebut, perlu adanya assessment bagi Fasilitator PNPM Generasi. Modul Pelatihan Fasilitator PNPM Generasi dianggap perlu memasukan pendekatan gender sensitif dengan tujuan agar aspek gender dapat dipahami oleh Fasilitator PNPM Generasi. Secara keseluruhan, modul tersebut perlu memaparkan pengetahuan dasar tentang definisi dan konsep Gender dalam bentuk yang lebih operasional dalam konteks contoh-contoh praktis agar lebih mudah dimengerti oleh kelompok sasaran. Diharapkan pada akhir Bulan Maret, Modul Integrasi Gender tersebut sudah dapat disampaikan kepada Tim PSF. Semua masukan tersebut akan menjadi materi perbaikan sebelum modul ini resmi diluncurkan.

Rapat ini dipimpin oleh Sosial dan Gender Assessment Director MCA-Indonesia, Dewi Novirianti, dihadiri oleh Health and Nutrition Director MCA-Indonesia dan perwakilan dari Direktorat Bina Kesehatan, Persatuan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), Satker Pengelola Hibah MCC, Pusat Kajian Gender dan Anak dan Myra Diarsi, Ahli Gender. (RA/LM)

No comments:

Post a Comment