Pages

Labels

Wednesday, March 5, 2014

Sigi Lamo : Saksi Penyebaran Islam di Ternate


Kerajaan Ternate dan Tidore sangat terkenal pada awal abad ke-13 hingga abad ke -16 dengan jalur perdagangan rempah dunia. Dengan demikian, daerah Maluku sangat dikenal sebagai penghasil rempah-rempah sehingga menarik minat pedagang lain untuk ikut dalam peruntungan tersebut. Para pedagang yang ada di sekitar Ternate, diyakini sebagai salah satu penyebar Agama Islam di Ternate. Tidak ada catatan pasti dari sebuah prasasti atau dokumen yang dapat menjelasakan awal mula penyebaran islam. 


Namun sejarah mencatat tentang pelantikan Sultan Zainal Abidin pada tahun 1486. Tahun ini, disebut-sebut sebagai tahun dimulainya era Islam di Ternate khususnya, dan Maluku pada umumnya. Ketika dilantik sebagai Raja Ternate, gelar yang digunakan oleh Zainal Abidin adalah Sultan, dimana sebelumnya para Raja Ternate menggunakan gelar Kolano selama pemerintahan mereka. Sultan, merupakan gelar yang disandang oleh seorang pemimpin negara yang sistem pemerintahannya bersifat Islami. Sejak era Kepemimpinan Sultan Zainal Abidin, maka mulai diberlakukanlah hukum Islam dalam pemerintahan Kerajaan Ternate.

Sebagai sebuah identitas muslim, maka didirikanlah mesjid besar untuk menampung banyak jamaah. Sigi Lamo sendiri berarti Mesjid Besar, dan menjadi pusat ibadah kesultanan Ternate hingga saat ini. Mesjid ini mulai dibangun pada awal abad ke-17 pada masa Sultan Saidi Barakati. Melihat arsitekturnya, tentu hal ini mengingatkan akan gaya Mesjid-mesjid di Jawa, dan memang pada masa-mas tersebut, Sultan banyak mendatangkan kiai dari Jawa (pada masa Sunan Giri) sebagai guru agama untuk kesultanan dan rakyatnya. 


Sebagai mesjid tertua di Ternate, tentu mesjid ini memiliki banyak keunikan. Yang pertama adalah larangan bagi jamaah perempuan untuk sholat dan beribadah di Mesjid Sultan karena jamaah perempuan cukup sholat di rumah. Selain itu, hal ini juga dilakukan untuk tetap menjaga kesucian mesjid dari jemaah perempuan yang tiba-tiba mengalami datang bulan. Larangan ini juga mengakibatkan seluruh jamaan laki-laki dilarang untuk menggunakan sarung ke dalam mesjid, karena sarung dinilai mirip dengan rok yang menyimbolkan sosok perempuan. Jamaah laki-laki diwajibkan menggunakan celana yang melambangkan huruf hijaiyah Lam Alif, yang berarti ke-Esaan Allah. Pada saat sholat pun para jamaah wajib menggunakan tutup kepala. Hal unik lainnya adalah apabila ibadah sholat Jumat tiba, maka jalan menuju mesjid akan di tutup dan para anggota Kesultanan akan berjalan melewati jalan tersebut.

Seiring dengan perjalanan waktu, Mesjid Kesultanan melalui perubahan yang kini mengakomodasi kaum perempuan untuk dapat beraktivitas di sekitar mesjid kesultanan, yakni dibangunnya Mesjid Permaisuri yang berada tepat di sebelah mesjid utama. Arsitekturnya pun dibuat sama namun dengan ketinggian yang berbeda.


 


Sumber : M Adnan Amal, Kepulauan Rempah-Rempah perjalanan sejarah Maluku Utara 1250-1950,Kepustakaan Populer Gramedia, 2010



Moekti Ariebowo
Tenaga Ahli Sumber Daya Alam

No comments:

Post a Comment