Pages

Labels

Sunday, April 27, 2014

MCA-Indonesia Kembali Tandatanganani Nota Kesepahaman Pelaksanaan Proyek Kemakmuran Hijau




Kiprah Proyek Kemakmuran Hijau makin menggeliat dengan ditandatanganinya Nota Kesepahaman Pelaksanaan Proyek Kemakmuran Hijau dengan tujuh kabupaten baru, Jumat (25/04/2014). Dalam penandatangan tersebut, MCA-Indonesia diwakili oleh Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Bappenas selaku Ketua Majelis Wali Amanat MCA-Indonesia, Lukita Dinarsyah Tuwo disaksikan oleh Vice President of Department of Compact Operation MCC, Kamran Khan dan Direktur Eksekutif MCA-Indonesia, JW. Saputro. Sedangkan pihak pemerintah daerah diwakili oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat, K.H.M Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya, Bupati Lombok Tengah, H.M. Suhaili FT, Bupati Lombok Utara, Djohan Sjamsu, Bupati Lombok Timur, H. Moch. Ali Bin Dachlan, Bupati Sumba Barat, Bupati Sumba Tengah, Umbu Sappi Pateduk, PLT Bupati Sumba Barat Daya, Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora. Acara yang digelar di Museum Proklamasi Jakarta dihadiri oleh Anggota Majelis Wali Amanat MCA-Indonesia antara lain, Wismana Adi Suryabrata, Anugerah Pekerti, Zumrotin K. Soesilo, Ayu Sukorini dan Nina Sardjunani. Turut hadir perwakilan dari MCC Deputy Vice President of the Department of Compact Operations, Kyeh Kim dan Resident Country Director, Troy Wray serta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satker Pengelola Hibah MCC, Hari Kristijo.

Daerah yang menjadi tempat implementasi Proyek Kemakmuran Hijau tersebut meliputi Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Utara pada Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Sumba Timur dan Kabupaten Sumba Tengah pada Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebelumnya, Proyek Kemakmuran Hijau telah menandatangani nota kesepahaman yang sama dengan kabupaten-kabupaten di Provinsi Jambi dan Provinsi Sulawesi Barat. “Penandatanganan nota kesepahaman ini merupakan langkah awal sebelum mulai masuk dalam pelaksanaan kegiatan” kata Saputro. 


 
Program Compact dari Millennium Challenge Corporation (MCC) adalah bentuk dukungan Pemerintah Amerika Serikat untuk rakyat Indonesia dalam mengurangi kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi. Kerjasama dalam bentuk comprehensive partnership ini merupakan tanggung jawab yang harus ditangani secara serius. Peran serta pemerintah pusat dan keterlibatan aktif pemerintah daerah sangat menentukan dalam implementasi proyek ke depan. “Semuanya harus merasa memiliki dan bertanggung jawab” kata Khan. 


 
Dalam sambutannya, Lukita menyampaikan beberapa prinsip penting yang harus dipegang erat dalam menjalin kerjasama dalam proyek ini. Pertama adalah partnership, merupakan kerjasama yang dibangun atas dasar kesetaraan. “Kerjasama antara kita dan MCC harus dibangun atas dasar kesetaraan” jelas Lukita. Kedua yaitu ownership, bahwa usulan dan desain proyek berasal dari Pemerintah Indonesia atas kerja keras banyak pihak. Terakhir adalah sustainability, dimaksudkan agar proyek yang dibangun terus memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat. Menurut Lukita, total Hibah Compact MCC yang diterima Indonesia senilai USD 600 juta termasuk kecil jika dilihat secara nasional bahkan untuk tingkat provinsi. Tetapi hal ini menjadi sangat besar dan berarti jika dilihat dari manfaat yang dinikmati masyarakat. “Untuk itu, diperlukan akuntabilitas kita untuk benar-benar menjamin bahwa proyek ini berjalan sesuai dengan yang diharapkan masyarakat” tegas Lukita. 

Kontribusi dan sinergi semua pihak sangat berpengaruh dalam keberhasilan pelaksanaan proyek. Tidak semua komponen dalam Proyek Kemakmuran Hijau dapat dibangun melalui Program Compact. Lukita mencontohkan kerjasama yang tengah dijalani dengan pemerintah daerah di Jambi, dimana pembangunan akses jalan menuju lokasi proyek didanai oleh pemerintah daerah setempat, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan membangun transmisi dan MCA-Indonesia mengerjakan pembagunan mikrohidro. “Sinergi ini dapat jauh berhasil dibandingkan melaksanakannya sendiri-sendiri” jelas Lukita. (LM/SP)

No comments:

Post a Comment