Pages

Labels

Tuesday, April 22, 2014

MCA-Indonesia Tawarkan Alternatif Skema Pembiayaan Komersial



MCA-Indonesia menawarkan beberapa alternatif skema hibah Pembiayaan Komersial untuk Proyek Kemakmuran Hijau. Skema tersebut dibahas bersama dengan Kementerian Keuangan dan Satker Pengelola Hibah MCC untuk mendapatkan masukan dan persetujuan. Rapat yang digelar Senin (21/04/2014) di Kantor MCA-Indonesia masih bersifat permulaan dalam pembahasan Green Prosperity Finance Facility (GPFF) dalam dana hibah untuk mendukung pendanaan komersial. Pada kesempatan ini skema yang dibahas masih untuk pembiayaan Proyek Energi Terbarukan (Renewable Energy-RE) dan belum menyentuh Proyek Manajemen Sumber Daya Alam (Natural Resources Management). 

Direktur Eksekutif MCA-Indonesia, JW. Saputro menjelaskan bahwa hibah untuk mendukung Pendanaan Komersial untuk Energi Terbarukan merupakan pembiayaan Proyek Energi Terbarukan skala komersial yang diberikan melalui Lembaga Keuangan Bank dan Non Bank kepada Project Developer dan Community (Kelompok Masyarakat) untuk pembiayaan Proyek Energi Terbarukan di bawah 10 MW. Tujuannya tak lain sebagai catalyst kepada financial intermediary guna memberikan dukungan untuk pengembangan proyek-proyek Energi Terbarukan khusus untuk skala komersial di daerah Proyek Kemakmuran Hijau dengan mendukung berbagai teknologi energi terbarukan seperti PLTMH, POME, PLTS, PLTB, Biomassa dan Biogas. Dengan adanya program ini, pengembang proyek terbantu untuk mendapatkan pembiayaan komersial dari bank dan lembaga keuangan dengan memberikan dukungan pembiayaan complementary yang diperlukan. Tujuan lain dari model yang ingin dikembangkan adalah membangun kesadaran akan pentingnya aspek sustainability akan lingkungan (environment safeguard) guna keberlanjutan investasi energi terbarukan dalam jangka panjang. Masyarakat yang ada di lokasi proyek menjadi lebih berdaya dan berperan serta dengan berkontribusi aktif dalam kegiatan investasi tersebut.

MCA-Indonesia adalah lembaga pengelola hibah sesuai dengan Permen PPN/Kepala Bappenas No. 2 Tahun 2012 tentang Pembentukan Lembaga Majelis Wali Amanat MCA-Indonesia. Penyaluran hibah ini akan berlangsung hingga 1 April 2018 dan tidak dapat diperpanjang lagi. Hal yang menarik dalam mekanisme penyaluran hibah komersial dimana perjanjian Hibah Compact MCC mengakomodasi pemberian tenor hingga tahun 2022. Jangka waktu yang berlebih dari masa kerja Hibah Compact MCC di Indonesia dimaksudkan untuk memberikan waktu kepada investor agar dapat mengembalikan modal investasi yang telah dikeluarkan. 

 

Bank Indonesia menyebutkan bahwa pembiayaan untuk Proyek Energi Terbarukan (RE) dengan istilah scary but sexy. Bank saat ini masih belum tertarik memberikan pembiayaan proyek-proyek RE skala mini di bawah 10 MW karena pemahaman yang kurang akan sektor RE sehingga menganggap bisnis ini memiliki resiko yang tinggi. MCA-Indonesia ingin memberikan sebuah contoh nyata dengan manajemen yang baik dan terukur beserta bantuan modal awal, maka proyek-proyek green energy ini dapat diwujudkan dan bermanfaat untuk masyarakat. Skema pembiayaan ini dikemas dalam 4 skema yang menjelaskan aliran dana dari MCA-Indonesia ke Lembaga Keuangan dan Peminjam. Para peserta rapat menyetujui pola awal yang diberikan ini dan berharap pada pertemuan selanjutnya dapat lebih dijelaskan dan dimatangkan, termasuk analisis regulasi pendukung agar pada saatnya nanti siap untuk diimplementasikan. (LM/MA)

No comments:

Post a Comment